Jumat, 17 Februari 2012

Mossad Dicurigai Latih Aparat Intelijen Indonesia

Mossad (Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim), badan intelijen Israel, dicurigai ikut melatih aparat intelijen Indonesia melalui angkatan bersenjata Singapura. Peneliti intelijen Herry Nurdi saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema Mossad di Balik Setiap Konspirasi yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta, kemarin (2/3) sekitar pukul 13.00, mengatakan, "Latihannya di sekitar Kepulauan Riau pada 2006. Di depan ratusan orang yang datang di acara diskusi tersebut Herry mengatakan, "Ada latihan perang sekaligus training intensif tentang metode kontraterorisme, termasuk cara-cara menangkap aktivis yang dicurigai membahayakan kepentingan Singapura dan Israel." 

Menurut pria kelahiran Surabaya itu, tindakan tersebut jelas-jelas melanggar hukum diplomatik internasional. Sebab, Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Herry yang menuliskan analisis dan investigasinya dalam bentuk buku itu menilai pemerintah Indonesia kecolongan. Menurutnya, "Karena tidak ada undang-undang intelijen, hanya bertumpu pada kegalakan komisi I. Itu pun beberapa orang saja." Saat ditanya kesatuan mana yang dimaksud, apakah BIN (Badan Intelijen Negara) atau intelijen militer, Herry menolak menyebutkannya. Pria yang belajar jurnalisme investigasi di Lembaga Pers Dr Soetomo Jakarta itu menambahkan, "Yang jelas, faktanya ada. Tidak perlu pembuktian."

Herry memaparkan, berdasarkan riset dan investigasinya, hubungan Israel dan Singapura sudah berakar sejak puluhan tahun lalu. Pada 24 Desember 1965, enam perwira Israel mendarat di Singapura dengan tugas berbeda. Tim perwira pertama bertugas membangun Kementerian Pertahanan Singapura, dipimpin Kol Ellazari. Tim kedua dipimpin Yehuda Golan bertugas menyiapkan pasukan bersenjata Singapura yang awalnya hanya terdiri atas 40 sampai 50 orang. Tapi, saat ini pasukan tersebut telah menjelma menjadi kekuatan militer yang patut diperhitungkan di Asia Tenggara.
Tokoh-tokoh yang langsung terlibat dalam keputusan pembangunan militer Singapura saat itu adalah Yitzhak Rabin sebagai kepala staf Pemerintahan Isreal, Ezzer Weztmann, dan Mayor Jenderal Rehavan Ze'evy yang kelak duduk menjadi menteri. Ze'evy sendiri yang kala itu terbang ke Singapura dengan nama samaran "Gandhi" berjanji membangun kekuatan militer Singapura sebagai kekuatan yang belum pernah ada di Asia Tenggara. 

Selain kekuatan militer darat, Israel merancang Strategy Combatting Water bagi Singapura. Kekuatan tempur laut itu disiapkan Israel bersama Singapura secara khusus untuk menghadapi negara-negara maritim seperti Malaysia dan Indonesia. Karena itu, Lee Kuan Yew (ketika masih menjadi perdana menteri) memberikan izin secara resmi kepada Israel pada Mei 1969 untuk membuka Kedutaan Besar Israel di Singapura.

Di bagian lain, kerja sama intelijen Singapura dan Indonesia berjalan harmonis karena tidak ada panduan baku tata hubungan intelijen. (Jawa Pos)

DUNIA intelijen dalam film seolah aksi yang tiada henti sepanjang alur cerita. Salah satu film yang menampilkan sosok intel adalah serial ”James Bond” yang memiliki kode rahasia 007. Sementara di dunia nyata, sepak terjang intel bisa saja ada kemiripan dengan lakon film, bisa juga ada sisi-sisi lain yang berbeda. Perjalanan sejarah dunia intelijen di Indonesia yang juga kutipan sejumlah operasi yang pernah dilakukan lembaga intelijen di tanah air, setidaknya dapat diketahui dari buku karya Ken Conboy yang berjudul ”Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia”. Buku karya konsultan keamanan di Jakarta ini membukakan mata bahwa ketika ada satu kepentingan yang sama, Amerika Serikat tidak tanggung-tanggung memberikan bantuan dana, peralatan militer, hingga pelatihan bidang spionase. Namun ketika kepentingan itu hilang, negara yang semula didukung bisa berbalik 180 derajat menjadi seteru. Terkadang, pihak-pihak yang melakukan pemberontakan terhadap suatu negara mendapat pelatihan pula dari AS (hal. 15, dan penjelasan hal. 19). Hal itu mengingatkan pada kasus Iran-Contra pada tahun 1980-an, ketika negara adikuasa ”bermain-main” secara diam-diam dengan pihak yang menjadi lawan suatu pemerintahan/negara. Kasus Iran-Contra berupa penjualan senjata secara ilegal kepada negara Iran. Nah, uang yang diperoleh dari penjualan senjata itu digunakan untuk mendanai kelompok pemberontak Contra di negara Nikaragua. Saat perang dingin, musuh besar negara adidaya AS dan sekutunya adalah paham komunis. Tak heran jika AS memberikan berbagai perhatian lebih terhadap maraknya gerakan komunis di kawasan Asia, termasuk ketika berperang di Vietnam. Indonesia yang juga menghadapi persoalan dengan komunis melalui PKI, menjadi ”sahabat dekat” AS pada kurun waktu tersebut. Sejumlah personel dikirim mengikuti pelatihan intelijen di Pulau Saipan, yaitu pulau yang berada di kawasan Pasifik dan di bawah wilayah AS. Akan tetapi, AS juga bermain mata dengan melatih sejumlah pemberontak di Sumatra dan Sulawesi di Pulau Saipan. Akibat digunakan CIA untuk pelatihan, Pulau Saipan tertutup dari dunia luar antara tahun 1953-1962. Dalam menghadapi komunis, intel Indonesia mendapat pelatihan khusus menangkap mata-mata (spy catcher) dan juga memata-matai mata-mata asing. Yang menjadi sasaran biasanya para diplomat atau staf kedutaan dari negara-negara yang berhaluan komunis, semacam Uni Soviet, Korea Utara, dan Vietnam. Terkadang ada hal yang menggelikan saat melakukan penyadapan, semisal alat sadap harus segera diambil karena ternyata dipasang pada mebel yang akan diganti. Atau, ada juga yang tersadap justru pembicaraan dan hubungan intim target dengan pelacur. Ada juga keisengan petugas intel yang mengerjai seorang warga asing saat berada di Bali. Ternyata keisengan petugas intel juga dilakukan intel Jepang yang mengacak-acak bawaan target tersebut selama dua jam, sehingga target dibuat kapok atau jera untuk datang kembali ke Jepang. ** SEIRING dengan memudarnya komunisme dan runtuhnya sejumlah negara komunis, perhatian AS mulai surut dan beralih ke isu lain. Kondisi itu turut mengakhiri bulan madu aparat intelijen Indonesia dengan mentornya pada tahun 1997. Bahkan, pada era pemerintahan B.J. Habibie, Pimpinan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) saat itu, Z.A. Maulani mengganti seluruh peralatan bantuan AS dengan peralatan dari Inggris. Tak heran jika isu yang diusung bukan lagi membendung komunis,melainkan demokratisasi dan HAM. Itu pula yang terjadi jika dulu militer Indonesia dengan mudah memiliki peralatan dari AS dan sekutunya, kini peralatan militer itu mulai tak berguna menyusul embargo sukucadang dan beberapa pesawat yang sedang dirawat tidak bisa diambil kembali. Dengan isu perang melawan terorisme, kini mitra AS beralih dari militer kepada jajaran kepolisian. Jika kelak isu terorisme sudah tak terpakai, akankah bulan madu AS dengan kepolisian berakhir pula? Yang agak mengganggu dari buku ini adalah terjemahan yang kadang agak kaku, sehingga perlu sedikit waktu untuk ”mengunyahnya”. Akan tetapi, setidaknya bisa diketahui latar belakang sejumlah peristiwa semacam Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 yang ditengarai berlatar belakang persaingan (rivalitas) antara Kepala Kopkamtib Letjen Ali Murtopo dan Waka Kopkamtib Jenderal Soemitro. Selain itu, disinggung pula mengenai peristiwa G30S/PKI dengan kehebohan dokumen Gilchrist, penjualan peta rahasia militer kepada agen Soviet pada tahun 1982, dan pembajakan pesawat Garuda Woyla tahun 1981. Ada pula lintasan sejarah keberadaan Bakin (kini BIN/Badan Intelijen Negara), termasuk kisah masing-masing Kepala Bakin, BIN. Namun, setidaknya buku ini membuka apa yang pernah dilakukan aparat intelijen Indonesia, termasuk sisi-sisi lain yang terkadang menggelikan saat melakukan pengintaian terhadap agen intelijen asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar